Showing posts with label Kurikulum. Show all posts
Showing posts with label Kurikulum. Show all posts

Tuesday, November 15, 2011

METODE PENGAJARAN BACA TULIS AL-QUR'AN DI INDONESIA


A. Muqoddimah
Fenomena yang terjadi di masyarakat kita, terutama di rumah-rumah keluarga muslim semakin sepi dari bacaan ayat-ayat suci Al Qur'an. Hal ini disebabkan karena terdesak dengan munculnya berbagai produk sain dan tehnologi serta derasnya arus budaya asing yang semakin menggeser minat untuk belajar membaca Al Qur'an sehingga banyak anggota keluarga tidak bisa membaca Al Qur'an. Akhirnya kebiasaan membaca Al Qur'an ini sudah mulai langka. Yang ada adalah suara-suara radio, TV, Tape recorder, karaoke, dan lain-lain. Keadaan seperti ini adalah keadaan yang sangat memprihatinkan. Belum lagi masalah akhlak, akidah dan pelaksanaan ibadahnya, yang semakin hari semakin jauh dari tuntunan Rasululloh . Maka sangat diperlukan kerjasama dari semua fihak untuk mengatasinya. Yaitu mengembalikan kebiasaan membaca Al Qur'an di rumah-rumah kaum muslimin dan membekali kaum muslimin dengan nilai-nilai Islam, sehingga bisa hidup secara Islami demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Pada dekade belakangan ini telah banyak metode pengajaran baca tulis Al-Qur'an dikembangkan, begitu juga buku-buku panduannya telah banyak disusun dan dicetak. Para pengajar baca tulis Al-Qur'an tinggal memilih metode yang paling cocok baginya, paling efektif dan paling murah. Dunia pendidikan mengakui bahwa suatu metode pengajaran senantiasa memiliki kekuatan dan kelemahan. Keberhasilan suatu metode pengajaran sangat ditentukan oleh beberapa hal, yaitu :
1. Kemampuan guru.
2. Siswa
3. Lingkungan.
4. Materi pelajaran.
5. Alat pelajaran.
6. Tujuan yang hendak dicapai.

Dalam mengajarkan baca tulis Al-Qur'an harus menggunakan metode. Dengan menggunakan metode yang tepat akan menjamin tercapainya tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dan merata bagi siswa.

B. Metode-metode baca tulis Al-Qur'an di Indonesia.
Metode-metode pembelajaran baca tulis Al-Qur'an telah banyak berkembang di Indonesia sejak lama. Tiap-tiap metode dikembangkan berdasarkan karakteristiknya.

1. Metode Baghdadiyah.
Metode ini disebut juga dengan metode “ Eja “, berasal dari Baghdad masa pemerintahan khalifah Bani Abbasiyah. Tidak tahu dengan pasti siapa penyusunnya. Dan telah seabad lebih berkembang secara merata di tanah air. Secara dikdatik, materi-materinya diurutkan dari yang kongkrit ke abstrak, dari yang mudah ke yang sukar, dan dari yang umum sifatnya kepada materi yang terinci ( khusus ). Secara garis besar, Qoidah Baghdadiyah memerlukan 17 langkah. 30 huruf hijaiyyah selalu ditampilkan secara utuh dalam tiap langkah. Seolah-olah sejumlah tersebut menjadi tema central dengan berbagai variasi. Variasi dari tiap langkah menimbulkan rasa estetika bagi siswa (enak didengar ) karena bunyinya bersajak berirama. Indah dilihat karena penulisan huruf yang sama. Metode ini diajarkan secara klasikal maupun privat.

Beberapa kelebihan Qoidah Baghdadiyah antara lain :
a. Bahan/materi pelajaran disusun secara sekuensif.
b. 30 huruf abjad hampir selalu ditampilkan pada setiap langkah secara utuh sebagai tema sentral.
c. Pola bunyi dan susunan huruf (wazan) disusun secara rapi.
d. Ketrampilan mengeja yang dikembangkan merupakan daya tarik tersendiri.
e. Materi tajwid secara mendasar terintegrasi dalam setiap langkah.

Beberapa kekurangan Qoidah baghdadiyah antara lain :
a. Qoidah Baghdadiyah yang asli sulit diketahui, karena sudah mengalami beberapa modifikasi kecil.
b. Penyajian materi terkesan menjemukan.
c. Penampilan beberapa huruf yang mirip dapat menyulitkan pengalaman siswa.
d. Memerlukan waktu lama untuk mampu membaca Al-Qur'an

2. Metode Iqro’.
Metode Iqro’ disusun oleh Bapak As'ad Humam dari Kotagede Yogyakarta dan dikembangkan oleh AMM ( Angkatan Muda Masjid dan Musholla ) Yogyakarta dengan
membuka TK Al-Qur'an dan TP Al-Qur'an. Metode Iqro’ semakin berkembang dan menyebar merata di Indonesia setelah munas DPP BKPMI di Surabaya yang menjadikan TK Al-Qur'an dan metode Iqro’ sebagai sebagai program utama perjuangannya. Metode Iqro’ terdiri dari 6 jilid dengan variasi warna cover yang memikat perhatian anak TK Al-Qur'an. 10 sifat buku Iqro’ adalah :
a. Bacaan langsung. f. Praktis
b. CBSA g. Disusun secara lengkap dan sempurna
c. Privat h. Variatif
d. Modul i. Komunikatif
e. Asistensi j. Fleksibel

Bentuk-bentuk pengajaran dengan metode Iqro’ antara lain :
a. TK Al-Qur'an
b. TP Al-Qur'an
c. Digunakan pada pengajian anak-anak di masjid/musholla
d. Menjadi materi dalam kursus baca tulis Al-Qur'an
e. Menjadi program ekstra kurikuler sekolah
f. Digunakan di majelis-majelis taklim

3. Metode Qiro’ati
Metode baca al-Qu ran Qira'ati ditemukan KH. Dachlan Salim Zarkasyi (w. 2001 M) dari
Semarang, Jawa Tengah. Metode yang disebarkan sejak awal 1970-an, ini memungkinkan anakanak mempelajari al-Qur'an secara cepat dan mudah..

Kiai Dachlan yang mulai mengajar al-Qur'an pada 1963, merasa metode baca al-Qur'an yang ada belum memadai. Misalnya metode Qa'idah Baghdadiyah dari Baghdad Irak, yang dianggap metode tertua, terlalu mengandalkan hafalan dan tidak mengenalkan cara baca tartil (jelas dan tepat, red.) Kiai Dachlan kemudian menerbitkan enam jilid buku Pelajaran Membaca al-Qur'an untuk TK al-Qur'an untuk anak usia 4-6 tahun pada l Juli 1986. Usai merampungkan penyusunannya, KH. Dachlan berwasiat, supaya tidak sembarang orang mengajarkan metode Qira'ati. Tapi semua orang boleh diajar dengan metode Qira'ati. Dalam perkembangannya, sasaran metode Qiraati kian diperluas. Kini ada Qiraati untuk anak usia 4-6 tahun, untuk 6-12 tahun, dan untuk mahasiswa.

Secara umum metode pengajaran Qiro’ati adalah :
a. Klasikal dan privat
b. Guru menjelaskan dengan memberi contoh materi pokok bahasan, selanjutnya siswa membaca sendiri ( CBSA)
c. Siswa membaca tanpa mengeja.
d. Sejak awal belajar, siswa ditekankan untuk membaca dengan tepat dan cepat.

4. Metode Al Barqy
Metode al-Barqy dapat dinilai sebagai metode cepat membaca al-Qur'an yang paling awal. Metode ini ditemukan dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya, Muhadjir Sulthon pada 1965. Awalnya, al-Barqy diperuntukkan bagi siswa SD Islam at-Tarbiyah, Surabaya. Siswa yang belajar metode ini lebih cepat mampu membaca al-Qur'an. Muhadjir lantas membukukan metodenya pada 1978, dengan judul Cara Cepat Mempelajari Bacaan al-Qur'an al-Barqy. MUHADJIR SULTHON MANAJEMEN (MSM) merupakan lembaga yang didirikan untuk membantu program pemerintah dalam hal pemberantasan buta Baca Tulis Al Qur’an dan Membaca Huruf Latin. Berpusat di Surabaya, dan telah mempunyai cabang di beberapa kota besar di Indonesia, Singapura & Malaysia.

Metode ini disebut ANTI LUPA karena mempunyai struktur yang apabila pada saat siswa lupa dengan huruf-huruf / suku kata yang telah dipelajari, maka ia akan dengan mudah dapat mengingat kembali tanpa bantuan guru. Penyebutan Anti Lupa itu sendiri adalah dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Departemen Agama RI. Metode ini diperuntukkan bagi siapa saja mulai anak-anak hingga orang dewasa. Metode ini mempunyai keunggulan anak tidak akan lupa sehingga secara langsung dapat MEMPERMUDAH dan MEMPERCEPAT anak / siswa belajar membaca. Waktu untuk belajar membaca Al Qur’an menjadi semakin singkat.

Keuntungan yang di dapat dengan menggunakan metode ini adalah :
a Bagi guru ( guru mempunyai keahlian tambahan sehingga dapat mengajar dengan lebih baik, bisa menambah penghasilan di waktu luang dengan keahlian yang dipelajari),
b Bagi Murid ( Murid merasa cepat belajar sehingga tidak merasa bosan dan menambah
kepercayaan dirinya karena sudah bisa belajar dan mengusainya dalam waktu singkat, hanya satu level sehingga biayanya lebih murah),
c Bagi Sekolah (sekolah menjadi lebih terkenal karena murid-muridnya mempunyai kemampuan untuk menguasai pelajaran lebih cepat dibandingkan dengan sekolah lain).

5. Metode Tilawati.
Metode Tilawati disusun pada tahun 2002 oleh Tim terdiri dari Drs.H. Hasan Sadzili, Drs H. Ali Muaffa dkk. Kemudian dikembangkan oleh Pesantren Virtual Nurul Falah Surabaya. Metode Tilawati dikembangkan untuk menjawab permasalahan yang berkembang di TK-TPA, antara lain :
a. Mutu Pendidikan Kualitas santri lulusan TK/TP Al Qur’an belum sesuai dengan target.
b. Metode Pembelajaran Metode pembelajaran masih belum menciptakan suasana belajar
yang kondusif. Sehingga proses belajar tidak efektif.
c. Pendanaan Tidak adanya keseimbangan keuangan antara pemasukan dan pengeluaran.
d. Waktu pendidikan Waktu pendidikan masih terlalu lama sehingga banyak santri drop-out sebelum khatam Al-Qur'an.
e. Kelas TQA Pasca TPA TQA belum bisa terlaksana.
Metode Tilawati memberikan jaminan kualitas bagi santri-santrinya, antara lain :
a. Santri mampu membaca Al-Qur'an dengan tartil.
b. Santri mampu membenarkan bacaan Al-Qur'an yang salah.
c. Ketuntasan belajar santri secara individu 70 % dan secara kelompok 80%.

Prinsip-prinsip pembelajaran Tilawati :
a. Disampaikan dengan praktis.
b. Menggunakan lagu Rost.
c. Menggunakan pendekatan klasikal dan individu secara seimbang.

6. Metode Iqro’ Dewasa

7. Metode Iqro’ Terpadu
Kedua metode ini disusun oleh Drs. Tasrifin Karim dari Kalimantan Selatan. Iqro’ terpadu merupakan penyempurnaan dari Iqro’ Dewasa. Kelebihan Iqro’ Terpadu dibandingkan dengan Iqro’ Dewasa antara lain bahwa Iqro’ Dewasa dengan pola 20 kali pertemuan sedangkan Iqro’ Terpadu hanya 10 kali pertemuan dan dilengkapi dengan latihan membaca dan menulis. Kedua metode ini diperuntukkan bagi orang dewasa. Prinsip-prinsip pengajarannya seperti yang dikembangkan pada TK-TP Al-Qur'an.

8. Metode Iqro’ Klasikal
Metode ini dikembangkan oleh Tim Tadarrus AMM Yogyakarta sebagai pemampatan dari buku Iqro’ 6 jilid. Iqro’ Klasikal diperuntukkan bagi siswa SD/MI, yang diajarkan secara klasikal dan mengacu pada kurikulum sekolah formal.

9. Dirosa ( Dirasah Orang Dewasa )
Dirosa merupakan sistem pembinaan islam berkelanjutan yang diawali dengan belajar baca Al-Qur’an. Panduan Baca Al-Qur’an pada Dirosa disusun tahun 2006 yang dikembangkan Wahdah Islamiyah Gowa. Panduan ini khusus orang dewasa dengan sistem klasikal 20 kali pertemuan.

Buku panduan ini lahir dari sebuah proses yang panjang, dari sebuah perjalanan pengajaran Al Qur'an di kalangan ibu-ibu yang dialami sendiri oleh Pencetus dan Penulis buku ini. Telah terjadi proses pencarian format yang terbaik pada pengajaran Al Qur'an di kalangan ibu-ibu selama kurang lebih 15 tahun dengan berganti-ganti metode. Dan akhirnya ditemukanlah satu format yang sementara dianggap paling ideal, paling baik dan efektif yaitu memadukan pembelajaran baca Al-Qur'an dengan pengenalan dasar-dasar keislaman. Buku panduan belajar baca Al-Qur'annya disusun tahun 2006. Sedangkan buku-buku penunjangnya juga yang dipakai pada santri TK-TP Al-Qur'an.

Panduan Dirosa sudah mulai berkembang di daerah-daerah, baik Sulawesi, Kalimantan
maupun beberapa daerah kepulauan Maluku; yang dibawa oleh para da,i . Secara garis besar metode pengajarannya adalah Baca-Tunjuk-Simak-Ulang, yaitu pembina membacakan, peserta menunjuk tulisan, mendengarkan dengan seksama kemudian mengulangi bacaan tadi. Tehnik ini dilakukan bukan hanya bagi bacaan pembina, tetapi juga bacaan dari sesama peserta. Semakin banyak mendengar dan mengulang, semakin besar kemungkinan untuk bisa baca Al-Qur'an lebih cepat.

10. PQOD ( Pendidikan Qur’an Orang Dewasa )
Dikembangkan oleh Bagian dakwah LM DPP WI, yang hingga saat ini belum diekspos keluar. Diajarkan di kalangan anggota Majlis Taklim dan satu paket dengan kursus Tartil Al-Qur'an .

C. Pembahasan efektivitas metode baca tulis Al-Qur'an.
Seorang pengajar baca tulis Al-Qur'an , tidak serta merta mengadopsi metode yang baru
dikenalnya, apalagi jika hanya mendapatkan informasi saja tentang metode tersebut . Para Pembina harus melakukan kajian yang mendalam, sebelum menetapkan metode apa yang akan dipakai dalam mengajarkan baca tulis Al-Qur'an kepada santri.

Beberapa pertimbangan dalam pemilihan metode pengajaran antara lain :
1. Mudah dan murahnya mendapatkan pelatihan-pelatihan bagi para pembina.
2. Mudah dikuasai oleh mayoritas Ustadz/ah
3. Mudah dan murah mendapatkan buku panduan
4. Mudah dan sederhana pengelolaan pengajarannya.

Jika beberapa metode lolos pertimbangan di atas, maka ditentukan pemilihan berdasarkan skala prioritas.

D. Kesimpulan.
Metode apapun yang berkembang, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Efektifitas, efisiensi, cepat mudahnya sebuah metode pengajaran berbeda-beda di tiap daerah. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Penggabungan beberapa metode pengajaran belum tentu membuahkan hasil yang baik.

Perlu konsistensi bagi pembina dalam menerapkan sebuah metode apabila telah dipilih, sebab ganti-ganti metode akan menyebabkan kebingungan bagi pembina, terlebih lagi bagi santri.

(Disampaikan oleh Komari pada Pelatihan Nasional Guru dan Pengelola TK-TPA, Gedung LAN Makassar 24-26 Oktober 2008)

Baca Selengkapnya..

Sunday, November 23, 2008

Ustadz Yang Handal

A. Paham Gaya Belajar Santrinya

Mungkin diantara para ustad-utadzah di TKA-TPA pernah menjumpai santri yang suka berlarian dikelas, banyak bicaranya dan ada juga santri yang diam pemurung, sehingga sering kita menganggapnya sebagai suatu masalah dalam proses pembelajaran. Perilaku santri seperti yang digambarkan diatas bukanlah sebuah masalah dalam proses pembelajaran bila para ustad-ustadzah memahami apa yang namanya gaya belajar santri. Karena gaya belajar santri tercermin dari perilaku santri sehari-hari dalam kegiatan pembelajaran.

Ada tiga gaya belajar yang dimiliki oleh para santri diantaranya ;

*
Gaya belajar visual
*
Gaya belajar auditorial
*
Gaya belajar kinestetik

Gaya belajar merupakan cara seorang anak didalam menerima atau memproses informasi. Dimana seorang anak bisa saja memiliki salah satu gaya belajar tersebut atau lebih dari satu gaya belajar.



1. Gaya belajar visual

Gaya belajar visual didalam menerima atau memproses informasi dengan cara melihat. Ciri-ciri anak yang memiliki gaya belajar visual diantaranya ;

*
Selalu rapih dan teratur.
*
kalau berbicara cepat
*
Teliti dan detail.
*
Mementingkan penampilan.
*
Mengingat apa yang dilihat dari pada yang didengar.
*
Tidak terganggu oleh keributan.
*
Pembaca cepat dan tekun.
*
Suka membaca.
*
Suka mencoret-coret tanpa arti bila sedang berbicara atau mendengar
*
Sering menjawab pertanyaan dengan singkat seperti ya dan tidak.
*
Lebih suka memperagakan dari pada berbicara.

2. Gaya belajar auditorial

Gaya belajar auditorial yaitu belajar dengan cara mendengar seperti, mendengarkan ceramah, siaran Radio dan Radio kaset. Gaya belajar auditorial memiliki ciri-ciri seperti ;

*
Mudah terganggu oleh keributan.
*
Suka berbicara pada diri sendiri pada saat kerja
*
Membaca dengan besuara
*
Merasa sulit menulis tapi pandai bercerita.
*
Umumnya bicaranya fasih
*
Lebih mudah mengingat dari mendengar
*
Suka bicara dan diskusi

3. Gaya belajar kinestetik

Gaya belajar kinestetik yaitu belajar dengan cara bergerak, bekerja menyentuh bersifat ketrampilan tubuh. Ciri-ciri dari gaya belajar kinestetik adalah ;

*
Berbicara perlahan.
*
Merespon perhatian fisik
*
Mencari perhatian dengan menyentuh.
*
Berdiri dekat bila berbicara dengan orang lain.
*
Banyak bergerak.
*
Mengahafal dengan cara berjalan dan melihat.
*
Tidak tahan duduk lama.
*
Banyak menggunakan isyarat tubuh.
*
Belajar mealui praktek.

Seorang guru TPA yang handal harus memahami gaya belajar santrinya, apakah memiliki gaya belajar visual, auditoril atau kinestetik sehingga didalam menjalankan proses pembelajaran dia akan menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar santrinya.Bila para ustad-ustadzah menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar santrinya maka Insya Allah santri akan lebih cepat memahami materi pelajaran yang disampaiakannya.

B. MENGUASAI MATERI, SUASANA BELAJAR DAN KONDISI RUANGAN

1. Penguasaan Materi dan Cara Penyampaian

Untuk mengetahui materi pembelajaran TKA/TPA secara semaksimal mungkin, hal ini sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar.

Demikian pula dengan cara penyampaiannya, yang menyesuaikan dengan usia para santri.

2. Menguasai Suasana Belajar

Suasana gaduh dalam kelas tentu sangat mengganggu, Terdapat beberapa trik agar tidak gaduh.

3. Menguasai Kondisi dalam Ruangan

C. KEMAMPUAN INTERAKTIF TERHADAP SANTRI

Keterampilan komunikasi ustadz

Kemampuan berkomunikasi ustadz/ustadzah, sangat diperlukan.

Melatih Keterampilan komunikasi santri

Ketrampilan komunikasi anak sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Pada usia pra sekolah, anak memerlukan suatu lingkungan yang mampu menstimuli ketrampilan komunikasinya. Taman Pendidikan Al Quran sebagai salah satu lembaga pendidikan non formal berperan penting dalam meningkatkan kemampuan ketrampilan komunikasi anak melalui program-program yang dirancangnya. Tingkat keterlibatan santri terhadap program-program yang ada pada TKA/TPA secara teoritis memiliki pengaruh terhadap kemampuan ketrampilan komunikasianak.

Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagaimana yang dinyatakan oleh Stewart L. Tubb dan Sylvia Moss yang menyatakan bahwa sifat komunikasi anak secara umum ada 2 macam: Pertama, Komunikasi Egosentris. Artinya, anak selalu berbahasa dengan bahasa yang selalu membuat pernyataan, bahkan perdebatan, alih-alih memberi alasan pernyataannya. Anak tersebut hampir tidak pernah bertanya pada dirinya, apakah ucapannya dimengerti. Baginya semua itu sudah jelas, karena ia sama sekali tidak memikirkan orang lain ketika ia berbicara. Kedua, Komunikasi Sosiosentrik. Artinya meliputi penyajian informasi kepada penerima dan dalam beberapa hal cara pandang penerima, ini lebih melibatkan penyandian sosial daripada penyandian nonsosial. Adapun dalam pola belajar berbicara, biasanya terdapat empat bentuk prabicara, yaitu menangis, berceloteh, isyarat, dan pengungkapan emosi.

C. MAMPU MENGIKAT HUBUNGAN BATHIN YANG ERAT DENGAN PARA SANTRINYASeorang ustadz-ustadzah TKA/TPA yang sangat disayangi oleh para santrinya, tentu lebih mudah memberikan materi. Ikatan hubungan batin dengan santrinya ini dapat diciptakan.



D. MENELADANI PENDIDIK DALAM AL QUR’AN DAN HADITS

1. Rasulullah SAW

Mengkaji perjalanan hidup Rasulullah SAW adalah bagaikan mengarungi lautan yang tidak bertepi karena sangat luas, sangat kaya, dan sangat mencerahkan. Keluasan suri tauladan Muhammad SAW mencakup semua aspek hidup dan kehidupan. Perjalanan hidup pribadi, keluarga, bisnis, sosial, politik, militer, hukum, dan pendidikan Rasulullah SAW dengan disiplin leadership dan manajemen. Teritorial suri tauladan Rasulullah SAW tidak lagi di dalam masjid dan mushalla tetapi mulai keluar merambah manajemen pasar modal, perbankan, asuransi, sistem hukum, manajemen stratejik, pembiayaan ekspor-impor, sistem pendidikan, dan bidang-bidang kehidupan lainnya.

2. Para Nabi



3. Luqman Al Hakim

Satu-satunya manusia yang bukan nabi, bukan pula Rasul tapi kisah hidupnya diabadikan dalam Qur’an adalah Lukman Al Hakim. Kenapa, tak lain, karena hidupnya penuh hikmah. Suatu hari ia pernah menasehati anaknya tentang hidup.

“Anakku, jika makanan telah memenuhi perutmu, maka akan matilah pikiran dan kebijaksanaanmu. Semua anggota badanmu akan malas untuk melakukan badah, dan hilang pulalah ketulusan dan kebersihan hati. Padahal hanya dengan hati bersih manusia bisa menikmati lezatnya berdzikir.”

“Anakku, kalau sejak kecil engkau rajin belajar dan menuntut ilmu. Dewasa kelak engkau akan memetik buahnya dan menikmatinya.”

“Anakku, ikutlah engkau pada orang-orang yang sedang menggotong jenazah, jangan kau ikut orang-orang yang hendak pergi ke pesta pernikahan. Karena jenazah akan mengingatkan engkau pada kehidupan yang akan datang. Sedangkan pesta pernikahan akan membangkitkan nafsu duniamu.”

?”Anakku, aku sudah pernah memikul batu-batu besar, aku juga sudah mengangkat besi-besi berat. Tapi tidak pernah kurasakan sesuatu yang lebih berat daripada tangan yang buruk perangainya.”

“Anakku, aku sudah merasakan semua benda yang pahit. Tapi tidak pernah kurasakan yang lebih pahit dari kemiskinan dan kehinaan.”

“Anakku, aku sudah mengalami penderitaan dan bermacam kesusahan. Tetapi aku belum pernah merasakan penderitaan yang lebih susah daripada menanggung hutang.”

“Anakku, sepanjang hidupku aku berpegang pada delapan wasiat para nabi. Kalimat itu adalah:

1. Jika kau beribadah pada Allah, jagalah pikiranmu baik-baik.
2. Jika kau berada di rumah orang lain, maka jagalah pandanganmu.
3. Jika kau berada di tengah-tengah majelis, jagalah lidahmu.
4. Jika kau hadir dalam jamuan makan, jagalah perangaimu.
5. Ingatlah Allah selalu.
6. Ingatlah maut yang akan menjemputmu
7. Lupakan budi baik yang kau kerjakan pada orang lain.
8. Lupakan semua kesalahan orang lain terhadapmu.

DAFTAR PUSTAKA

1. Gaya Belajar, (Drs. Taufik Hidayat S.) http://www.lpptka-dki.or.id

2. SEPTI IRAWATI, Pengaruh Program Play Group “Al-Fath” Kediri Terhadap Ketrampilan BerkomunikasiAnak. Institut Teknologi Bandung. http://digital.lib.itb.ac.id

3. Muhammad SAW, The Super Leader Super Manager, Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec , Penerbit: MQS Publishing.

4. http://www.dudung.net/index.php?naon=depan&action=detail&id=132&cat=2


Baca Selengkapnya..

Tuesday, November 11, 2008

KURIKULUM PENDIDIKAN TKA-TPA BAITUSSALAM

Karakteristik Anak Usia Pra Sekolah-Sekolah Dasar
Subyek didik (santri) pada umumnya anak usia pra sekolah–sekolah dasar adalah mereka yang menjadi sentral program pendidikan dan perhatian kurikulum ini. Sehingga substansi kurikulum yang dirumuskan ini dan yang dikembangkan di dalam tataran paksis (praktek di lapangan) pun harus senantiasa disesuaikan dengan dunia anak. Oleh karena itu, pengetahuan akan karakteristik anak harus senantiasa segar di dalam benak setiap orang yang berinteraksi dengan mereka.
Pemahaman tentang tahap-tahap perkembangan anak, dapat mengarahkan pendidik memiliki kesanggupan di dalam memberikan pelayanan atau perlakuan yang sesuai dengan irama perkembangan dan pertumbuhan anak, sesuai dengan jiwa anak.

Akhirnya, anak akan terhindar dari perlakuan yang tidak pada tempatnya (dzalim).
Setiap anak, memiliki irama pertumbuhan dan perkembangan masing-masing yang terkadang memerlukan perlakuan yang amat khusus. Walau demikian, secara umum, mereka memiliki ciri atau karakteistik pertumbuhan dan perkembangan yang hampir sama untuk tahap-tahap perkembangan dan pertumbuhan tertentu. Berdasar karakteristik yang umum tersebut, para orang tua dan setiap orang yang berinteraksi dengan anak dapat menyiapkan diri untuk mengarahkan dan membimbing mereka.
Adapun yang dimaksud dengan pertumbuhan di dalam pembahasan ini yakni adanya perubahan fisik/ tubuh anak ke arah penyempurnaannya. Sedangkan istilah perkembangan merupakan perubahan psikhis (kejiwaan) ke arah penyempurnaannya.
Peranan TKA-TPA

Gerakan TKA/TPA/TQA yang pernah digaungkan pada kurun tahun 1989 oleh Alm. Bp. As’ad Humam telah melahirkan ribuan TKA/TPA/TQA diseluruh Indonesia. Gerakan TKA/TPA/TQA telah memberi kontribusi yang cukup banyak bagi pendidikan anak usia dini (PAUD) tentang dasar-dasar agama sebagai pondasi tatanan moral umat

Metode dan Pendekatan Pembelajaran TKA-TPA

Metode yang digunakan dalam pembelajaran santri TK-TPA Al-Quran adalah metode IQRO, yang memiliki 6 jilid dengan masing-masing 33 s.d 35 halaman. Dan dilaksanakan dengan sistem PRIVAT dan sistem KLASIKAL. Penggunaan metode IQRO’ dipilih karena kemudahan dan fleksibilitasnya. Dikatakan mudah dan fleksibel, karena:

1.
Dapat dipelajari oleh siapa saja yang berkemauan keras dari usia kanak-kanak sampai dengan orang dewasa dan orang yang sudah lanjut usia.
2.
Dapat diterapkan pada beberapa jenis jenjang pendidikan:
- Sekolah Formal: Taman Kanak-Kanak (TK) SD / MI, SLTP & SLTA.
- Kursus-kursus atau privat
- Pada TKA (4-7 tahun) dan TPA (7-12 tahun)
- Penggunaan metode IQRO’ ini dipadukan dengan kurikilum yang disusun berdasarkan standar kurikulum yang telah ditetapkan LPPTKA-BKPRMI.
3.
Sistem Privat adalah pendekatan pembelajaran secara person to person (individual), yang dilakukan dengan mendengarkan langsung bacaan IQRO’ dari santri satu persatu.
Sedangkan Sistem Klasikal adalah pendekatan pembelajaran secara bersamaan, seperti halnya metode yang dilakukan oleh sekolah-sekolah formal, biasanya diisi dengan pemberian materi hafalan:
- Doa dan Adab Harian,
- Bacaan Shalat,
- Surah-Surah Pendek, dan
- Ayat-Ayat Pilihan

Ditambah dengan beberapa pelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum yang kami gunakan seperti:
- Praktek / Ilmu Tajwid,
- Praktek Shalat,
- Tahsinul Kitabah,
- Kaligrafi (Khat Arab),
- Menggambar / Mewarnai,
- Bahasa Arab,
- Bahasa Inggris, dan
- BCM (Bermain, Cerita, Menyanyi)
Waktu belajar yang kami terapkan yaitu selama 3 hari (Senin, Rabu dan Sabtu) dalam satu pekan pada sore hari, dengan belajar efektif 80 menit setiap harinya mulai pukul 16.30 sampai dengan 17.45 dengan pembagian sebagai berikut:

- Pembukaan (5 menit)

- Klasikal Awal (15 menit)

- Privat Bacaan IQRO’ (45 menit)
- Klasikal Akhir (10 menit)

- Penutup (5 menit)

Untuk mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan yang telah didapakan oleh santri dalam proses pembelajaran, maka dilaksanakan tugas harian, ulangan harian, ujian setiap semester, sebagai evaluasi nyata mendapatkan data yang akurat mengenai prestasi setiap santri, yang kemudian diberikan nilai pada raport.

Baca Selengkapnya..